Riau (Unilak) – Sebuah
inovasi berdaya guna tinggi kembali lahir dari bangku Sekolah Pascasarjana
Universitas Lancang Kuning (Unilak). Faural Abadi, mahasiswa Pascasarjana
Unilak Program Studi (Prodi) Magister Pendidikan Vokasi Keteknikan yang
berprofesi sebagai praktisi industri sekaligus guru di SMKN 1 Minas, berhasil
mengembangkan riset terapan bertajuk "Pengembangan Sistem Soil
Resistivity Meter untuk Mengetahui Nilai Resistansi Tanah" sebagai
karya tesisnya.
Inovasi ini lahir dari
kegelisahannya melihat mahalnya biaya sewa dan terbatasnya ketersediaan alat
pemeta resistivitas tanah di pasaran. Berawal dari diskusi bersama seorang engineer
geofisika ITB, Faural bertekad merancang sendiri prototipe alat tersebut.
Dukungan serta motivasi penuh dari dosen pembimbingnya di Pascasarjana Unilak,
Dr. Rizki Novendra, menjadi pemicu utama hingga alat ini berhasil dibuat,
terkalibrasi secara akurat, dan mengantarkannya lulus ujian tesis.
Alat Soil Resistivity Meter
buatan Faural ini menawarkan serangkaian fungsi vital untuk berbagai sektor,
mulai dari media pembelajaran hingga kebutuhan industri dan lingkungan.
"Fungsinya
sangat banyak. Sebagai media pendidikan, alat ini bisa digunakan di sekolah
atau lab-lab teknik kelistrikan dan geofisika. Di industri, alat ini banyak
digunakan untuk mengambil data survei tanah, misalnya menentukan nilai
resistivitas tanah untuk kebutuhan titik grounding yang bagus. Selain itu, bisa
untuk mengetahui keberadaan aquifer atau kedalaman air tanah. Satu lagi yang
sangat relevan untuk daerah Riau yang banyak industri migas, alat ini bisa
digunakan untuk mengetahui besaran tanah yang tercemar oleh limbah minyak
mentah," terang Faural menjelaskan kemanfaatan alatnya.
Melalui pengukuran nilai
resistivitas ini, lokasi sumber air tanah dapat dipetakan secara presisi
sebelum pemboran, sekaligus dapat mengukur seberapa luas dan dalam tingkat
kontaminasi limbah minyak mentah di suatu wilayah.
Meskipun prototipe saat ini sudah
dapat beroperasi dengan praktis melalui sistem satu tombol (one-button
operation), Faural berencana untuk terus menyempurnakan inovasinya. Ke
depan, ia berniat mengintegrasikan alat ini dengan sistem pencatatan otomatis
yang terhubung langsung ke komputer, serta menambahkan variasi sensor lain agar
dapat dimanfaatkan untuk penelitian lanjutan.
Keberhasilan Faural dalam
menyelesaikan studinya tidak lepas dari pengalaman berkesan yang ia rasakan
selama berkuliah di Unilak. Meski sempat ragu di awal, ia mengaku sangat
terbantu oleh pendekatan para dosen Pascasarjana Unilak yang ramah,
komunikatif, dan selalu memberikan solusi konkret di tengah kebuntuannya
menyusun tesis.
"Dosen-dosen
di sini sangat humble, komunikasinya cair dan tidak kaku. Malah terkadang
mahasiswanya yang lebih kaku. Dosen-dosen di sini juga sangat interaktif dan
solutif. Kalau kita sedang pusing memikirkan tugas atau tesis, bertemu dosen
justru membuat masalah jadi buyar karena mereka langsung memberikan solusi,
ibarat kita bertanya pada AI yang langsung memberikan jawaban. Saya sempat
hampir putus asa mengerjakan tesis, tapi setelah bertemu dosen pembimbing,
semangat saya kembali membara," ungkap Faural.
Melalui karya Faural Abadi,
Pascasarjana Unilak kembali membuktikan komitmennya dalam mencetak lulusan yang
tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi
teknologi tepat guna yang memberi manfaat nyata bagi industri dan masyarakat.