Jl. Yos Sudarso Km. 8, Pekanbaru, Riau [email protected] (0761) 63266

Mahasiswa Pascasarjana Unilak Ciptakan Soil Resistivity Meter Hemat Biaya dan Multifungsi

Selasa 18 Aug 2026 08:51:03 ± 3 menit baca Dibaca 85x Pasca
Mahasiswa Pascasarjana Unilak Ciptakan Soil Resistivity Meter Hemat Biaya dan Multifungsi
Mahasiswa Pascasarjana Unilak Ciptakan Soil Resistivity Meter Hemat Biaya dan Multifungsi

Riau (Unilak) – Sebuah inovasi berdaya guna tinggi kembali lahir dari bangku Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning (Unilak). Faural Abadi, mahasiswa Pascasarjana Unilak Program Studi (Prodi) Magister Pendidikan Vokasi Keteknikan yang berprofesi sebagai praktisi industri sekaligus guru di SMKN 1 Minas, berhasil mengembangkan riset terapan bertajuk "Pengembangan Sistem Soil Resistivity Meter untuk Mengetahui Nilai Resistansi Tanah" sebagai karya tesisnya.

Inovasi ini lahir dari kegelisahannya melihat mahalnya biaya sewa dan terbatasnya ketersediaan alat pemeta resistivitas tanah di pasaran. Berawal dari diskusi bersama seorang engineer geofisika ITB, Faural bertekad merancang sendiri prototipe alat tersebut. Dukungan serta motivasi penuh dari dosen pembimbingnya di Pascasarjana Unilak, Dr. Rizki Novendra, menjadi pemicu utama hingga alat ini berhasil dibuat, terkalibrasi secara akurat, dan mengantarkannya lulus ujian tesis.

Alat Soil Resistivity Meter buatan Faural ini menawarkan serangkaian fungsi vital untuk berbagai sektor, mulai dari media pembelajaran hingga kebutuhan industri dan lingkungan.

"Fungsinya sangat banyak. Sebagai media pendidikan, alat ini bisa digunakan di sekolah atau lab-lab teknik kelistrikan dan geofisika. Di industri, alat ini banyak digunakan untuk mengambil data survei tanah, misalnya menentukan nilai resistivitas tanah untuk kebutuhan titik grounding yang bagus. Selain itu, bisa untuk mengetahui keberadaan aquifer atau kedalaman air tanah. Satu lagi yang sangat relevan untuk daerah Riau yang banyak industri migas, alat ini bisa digunakan untuk mengetahui besaran tanah yang tercemar oleh limbah minyak mentah," terang Faural menjelaskan kemanfaatan alatnya.

Melalui pengukuran nilai resistivitas ini, lokasi sumber air tanah dapat dipetakan secara presisi sebelum pemboran, sekaligus dapat mengukur seberapa luas dan dalam tingkat kontaminasi limbah minyak mentah di suatu wilayah.

Meskipun prototipe saat ini sudah dapat beroperasi dengan praktis melalui sistem satu tombol (one-button operation), Faural berencana untuk terus menyempurnakan inovasinya. Ke depan, ia berniat mengintegrasikan alat ini dengan sistem pencatatan otomatis yang terhubung langsung ke komputer, serta menambahkan variasi sensor lain agar dapat dimanfaatkan untuk penelitian lanjutan.

Keberhasilan Faural dalam menyelesaikan studinya tidak lepas dari pengalaman berkesan yang ia rasakan selama berkuliah di Unilak. Meski sempat ragu di awal, ia mengaku sangat terbantu oleh pendekatan para dosen Pascasarjana Unilak yang ramah, komunikatif, dan selalu memberikan solusi konkret di tengah kebuntuannya menyusun tesis.

"Dosen-dosen di sini sangat humble, komunikasinya cair dan tidak kaku. Malah terkadang mahasiswanya yang lebih kaku. Dosen-dosen di sini juga sangat interaktif dan solutif. Kalau kita sedang pusing memikirkan tugas atau tesis, bertemu dosen justru membuat masalah jadi buyar karena mereka langsung memberikan solusi, ibarat kita bertanya pada AI yang langsung memberikan jawaban. Saya sempat hampir putus asa mengerjakan tesis, tapi setelah bertemu dosen pembimbing, semangat saya kembali membara," ungkap Faural.

Melalui karya Faural Abadi, Pascasarjana Unilak kembali membuktikan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi teknologi tepat guna yang memberi manfaat nyata bagi industri dan masyarakat.