Jl. Yos Sudarso Km. 8, Pekanbaru, Riau [email protected] (0761) 63266

Seimbangkan Industri Sawit, Dosen Magister Ilmu Pertanian Unilak Bedah Strategi Sawit Berkelanjutan

Senin 13 Jul 2026 11:26:46 ± 3 menit baca Dibaca 15x Kegiatan
Seimbangkan Industri Sawit, Dosen Magister Ilmu Pertanian Unilak Bedah Strategi Sawit Berkelanjutan
Seimbangkan Industri Sawit, Dosen Magister Ilmu Pertanian Unilak Bedah Strategi Sawit Berkelanjutan
Riau (Unilak) – Industri kelapa sawit Indonesia saat ini dituntut untuk mampu mengedepankan keseimbangan yang kokoh antara peningkatan produktivitas, proteksi lingkungan, serta kesejahteraan sosial. Langkah integratif ini dinilai menjadi kunci utama guna memastikan keberlanjutan sektor komoditas andalan nasional tersebut di tengah semakin ketatnya standardisasi dan tuntutan pasar global. Hal tersebut ditegaskan oleh Dosen sekaligus Ketua Program Studi (Kaprodi) Magister Ilmu Pertanian Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning (Unilak), Dr. Mulono Apriyanto, S.TP., MP., C.APO. Saat menghadiri Seminar Pengelolaan Sawit Berkelanjutan di Provinsi Riau yang ditaja oleh Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Riau di Pekanbaru, Kamis (25/6/2026), beliau hadir sebagai narasumber utama untuk membagikan pandangan strategisnya. Dalam pemaparan ilmiah bertajuk “Pengelolaan Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia yang Baik, Berkelanjutan dan Berdaya Saing: Konsep, Strategi dan Implementasi”, Dr. Mulono menguraikan bahwa akselerasi hasil panen sawit mutlak bersandar pada penerapan Good Agricultural Practices (GAP) atau praktik budidaya yang baik dari hulu ke hilir. Menurutnya, GAP merupakan fondasi paling mendasar dalam membangun ekosistem perkebunan yang efisien sekaligus ramah lingkungan. “Peningkatan produktivitas harus diinisiasi langsung dari sektor kebun. Oleh karena itu, standardisasi Good Agricultural Practices menjadi kunci utama agar aktivitas perkebunan mampu menghasilkan produksi yang optimal tanpa harus mengorbankan kelestarian alam,” jelas Dr. Mulono. Pakar pertanian Pascasarjana Unilak ini merinci adanya empat pilar utama dalam implementasi GAP. Pertama, kewajiban penggunaan bibit unggul bersertifikat yang memiliki rekam jejak genetika jelas, berdaya hasil tinggi, serta resisten terhadap penyakit tanaman. Kedua, penerapan formula pemupukan tepat 5T (tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara, dan tepat tempat) demi memangkas pemborosan biaya produksi sekaligus meminimalisir degradasi tanah akibat zat kimia berlebih. Ketiga, pengadopsian sistem pengendalian hama terpadu yang memprioritaskan pendekatan hayati secara alami. Keempat, manajemen panen tepat waktu guna menjaga kualitas Tandan Buah Segar (TBS) dan mengoptimalkan rendemen Crude Palm Oil (CPO) yang berujung pada peningkatan pendapatan riil para petani. Di samping aspek teknis budidaya, Dr. Mulono menekankan bahwa proteksi ekologis kini telah bergeser dari sekadar pilihan menjadi suatu regulasi yang mengikat bagi industri sawit modern. Ia mendesak para pelaku usaha untuk berkomitmen penuh menjaga kawasan bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value/HCV) serta area dengan stok karbon tinggi (High Carbon Stock/HCS) guna merawat keanekaragaman hayati. Langkah ini juga harus diimbangi dengan reduksi emisi gas rumah kaca lewat transisi ke energi terbarukan, seperti biogas, biomassa, dan tenaga surya, serta pengadopsian prinsip ekonomi sirkular dalam mengelola limbah cair (Palm Oil Mill Effluent/POME), tandan kosong, hingga cangkang menjadi produk baru bernilai ekonomis. Menutup pemaparannya, Dr. Mulono menggarisbawahi bahwa kesuksesan hilirisasi pertanian tidak boleh melupakan pilar sosial. Perusahaan sawit wajib menjamin kesejahteraan pekerja melalui upah layak, jaminan sosial, kepatuhan K3, serta membangun kemitraan yang transparan dan setara dengan petani rakyat. “Keberlanjutan yang hakiki adalah ketika produktivitas komoditas meningkat, kelestarian lingkungan tetap terjaga, dan kesejahteraan masyarakat sekitar terangkat secara nyata. Jika ketiga aspek ini berjalan seimbang, maka industri sawit kita akan semakin kuat, berdaya saing tinggi, dan diterima dengan baik oleh pasar internasional,” pungkas Dr. Mulono Apriyanto optimis.